- 10.24
- by
Sering kali Televisi menggambarkan angan-angan akan kehidupan dan diri yang ideal dengan sosok selebriti muda, cantik/ tampan, kaya, dan terkenal atau membeli suatu produk tertentu yang mendoktrin sebahagian besar pemikoran masyarakat untuk menjadi konsumtif, sehingga mereka terus menerus berusaha untuk meyakini hal itu untuk diperoleh. Fenomena ini sekiranya menggeser peran Kitab suci (dalam hal ini kitab agama islam - Al-Qur’an) khususnya program-program TV saat sekarang) sebagai panduan atau pedoman bagaimana hidup manusia dewasa ini.
Saya sedikit teringat dengan pandangan radikal bahwa kita membawa ponsel atau handphone setiap saat tetapi kitab suci agama (dalam hal ini adalah Al-Qur’an) kita sendiri dibiarkan berdebu di lemari rumah atau kita menonton TV setiap jam tetapi hanya sekali-kali membaca Al-Qur’an. Ketika dipikir lagi, pandangan ini ada benarnya dimana posisi ponsel atau TV kita anggap lebih penting dibandingkan memahami kitab agama. Lebih jauh lagi bisa saja kita artikan bahwa TV menjadi pedoman hidup manusia saat sekarang dimana semua arahan tentang kehidupan ada dan tersedia dibandingkan kitab yang pada dasarnya memang untuk membimbing manusia dalam kehidupan baik dunia maupun akhirat. Dari segi agama, itu disebabkan karena kurangnya tingkat keimanan umat tersebut atau faktor lingkungan yang mempengaruhi keimanannya. Tapi disisi lain, penyampaian akan kedua hal ini sangat jauh berbeda; maksudnya TV menyediakan secara langsung kepada penikmatnya ‘hal-hal’ yang diinginkan atau sesuai dengan keinginannya, sedangkan kitab perlu waktu dan pemahaman khusus untuk mengerti akan maknanya. Ini bisa dijadikan salah satu faktor beralihnya manusia untuk lebih memperhatikan TV daripada Kitab agamanya, disamping keinginan mereka sendiri untuk melakukannya.
Berbicara tentang keinginan, Hasrat (keinginan) muncul akibat kodrat manusia sebagai sesuatu ‘yang selalu berkekurangan’. Menurut Jacques Lacan, seorang psikoanalis asal perancis yang menggembangkan pandangan pro-freudian, manusia memiliki tiga konsep pembentukan psikologisnya; kebutuhan (need), permintaan (demand), dan hasrat (desire). Hasrat merupakan fase terakhir dan menjadi inti keberadaan kita yang terletak pada wilayah symbolic (sistem bahasa), dimana manusia selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya akan sesuatu yang dia sebut real. Opa Lacan (saya memanggilnya begitu) menjelaskan bahwa real merupakan keadaan sempurna, komplit, keutuhan, dan tanpa kekurangan yang tidak akan pernah terpenuhi oleh manusia. Tetapi manusia selalu berusaha untuk mencapainya. Jadi frasa ‘manusia tidak pernah puas’ itu memang benar.
Berajak dari pandangan ini, saya mencoba menguraikan salah satu program TV yang mempengaruhi pemikiran dominan masyarakat yaitu iklan. Kita pasti sering mendengar istilah ‘putih itu cantik’ atau ‘untuk menjadi cantik, kamu HARUS putih’. Kecendrungan pandangan ‘cantik itu putih’ dari salah satu iklan TV ini bisa dilihat dari berbagai perpektif; seperti pandangan paska-kolonialisme bahwa ini bisa menyangkut masalah rasis yang dibawa oleh penjajah atau masyarakat Barat yang mendominasi pemikiran manusia melalui proses hegemoni bahwa putih lebih dominan, superior, lebih baik daripada warna kulit yang lain sehingga orang akan berasumsi pandangan ini memang begitu adanya. Dari kacamata marxisme, hal ini dipandang sebagai determinasi kaum kapitalis yang melegetimasi sistem ekonomi (kapitalisme) untuk membuat produknya terjual dengan menciptakan wacana cantik harus putih kedalam benak masyarakat (khususnya masyarakat Indonesia yang konsumtif) sehingga wanita yang merasa kurang putih menjadi tidak percaya diri dengan penampilannya dan berlomba menjadi putih. Nah, menurut kacamata psikoanalisis khususnya opa Lacan, dampak istilah cantik itu putih membuat manusia menelan mentah-mentah wacana ini oleh karena hasrat untuk memiliki identitas. Hasrat ini mendorong ego manusia untuk meyakini dirinya sebagai objek yang membuatnya melihat dirinya sebagai hasrat orang lain. Manusia mengidentifikasi diri dengan melihat dirinya dari sisi atau hasrat orang lain, opa Lacan menyebutnya dengan konsep liyan atau other. Disisi lain, manusia memiliki dimensi imajiner dimana kita cenderung mengidentifikasi diri dengan diri-diri ideal. Sama halnya dengan istilah cantik itu putih, seorang cewek remaja mencoba mengidentifikasi dirinya dengan diri-diri ideal yaitu wajah cantik, kulit halus, dan putih, sehingga membuat dirinya tenggelam dalam imaji dengan membeli produk iklan tersebut. Maka cewek tersebut akan menganggap bahwa itu yang benar-benar dia inginkan tetapi sebaliknya keinginan/ hasrat itu hanya citraan orang lain yang menghasrati si cewek tadi. Hal ini dalam terminologi psikoanalisis disebut ‘ego ideal’ dimana kita membentuk pemahaman yang salah akan pencitraan ‘diri’. Mispesepsi atau salah pencitraan akan ‘diri’ ini dikenal dengan tahap cermin (mirror stage) perkembangan psiki manusia oleh opa Lacan.
Disamping itu, iklan-iklan lain pun mengidentifikasi citraan dengan sosok ideal untuk mendoktrin masyarakat membeli produknya; seperti iklan rokok dengan menciptakan citraan pria yang macho, gagah perkasa, dan mampu menaklukkan rintangan dengan membeli produknya, atau iklan ponsel/ seluler yang menampilkan artis tekenal yang ‘katanya’ menggunakan ponsel/ seluler yang sama, atau iklan motor/ mobil yang memberikan kenyamanan dan prestise status sosial untuk menjadi lebih dari yang lain. Dalam konteks ini, saya tidak akan menyalahkan produsen iklan karena menciptakan pandangan tersebut yang terkesan membodohi masyarakat, tetapi lebih kepada kenapa hal ini bisa mempengaruhi pemikiran manusia. Dari empat contoh iklan diatas, dapat dilihat dalam psikoanalisis Lacanian bahwa, konsumen (masyatakat Indonesia) dan manusia secara umum adalah makhluk yang tidak tahu apa yang harus dihasrati sehingga berpaling kepada orang lain untuk menentukan pilihan. Jelas terlihat bahwa iklan adalah suatu cara untuk menentukan pilihan tersebut karena dihasrati oleh orang lain. Iklan TV atau selebritis dalam istilah psikoanalisis Lacanian bisa dikatakan sebagai object a – suatu objek liyan dimana menggambarkan ide tentang kekurangan, ketiadaan, kehilangan yang menunjukkan bahwa manusia tidaklah utuh dari dirinya, dan beralih pada objek a ini untuk berusaha memenuhi kekurangan itu. Manusia cenderung kehilangan hasratnya dan mencitrakan hasrat orang lain sebagai hasrat dirinya. Contoh yang sangat dekat dengan kita, orang membeli ponsel Blackberry bukan dikarenakan kualitas ponsel atau kebutuhan akan barang tersebut, melainkan dia melihat orang lain menggunakan BB itu dan mendapatkan sense of identity atas kepemilikannya sehingga menimbulkan keinginan untuk memilikinya juga, atau pelajar yang memohon untuk membelikan motor kepada orang tuanya yang dihasrati orang lain karena merasa teralienasi disaat semua anak sebayanya telah memiliki kendaraan. Hasrat inilah yang terdapat dalam alam pikiran tidak sadar manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan kita dihasrati oleh hasrat orang lain. Yang perlu di ingat, hasrat dan semua penjelasan keinginan tersebut terjadi dalam ketidaksadaran kita atau unconscious mind.
Dari penjelasan diatas, kecendrungan tindakan masyarakat konsumtif adalah berusaha mengidentifikasi diri dengan diri yang ideal melalui media televisi dan memenuhi keinginan akan suatu keutuhan, kesempurnaan yang tidak pernah bisa terpenuhi. Hal ini membuat peran televisi lebih penting dalam pembentukan karakter manusia. Retorika tentang kitab agama yang esensialnya telah memberikan penjelasan akan bagaimana kita seharusnya hidup di dunia membuat manusia mengabaikan posisi kitab tadi karena identifikasi citraan pada televisi tersebut. Opa Lacan menyatakan bahwa bila identifikasi menjadi identitas kita, maka ia akan bertindak merepresikan semua hasrat yang tidak sejalan dengan identitas ini. Sama halnya dengan kitab tadi, ketika manusia mengaggap atau mengidentifikasi citraan orang lain (liyan/ other) dalam televisi menjadi identitas, maka peran kitab agama tersebut akan direpresi karena tidak sejalan lagi dengan pemikiran mereka. Iklan TV telah menjadi objek untuk menentukan pilihan akan pengidentifikasian atas identitas manusia, sehingga hasrat untuk memiliki identitas sebagai diri yang ideal mengalahkan keeksistensial kitab agama dalam menjalani kehidupan. Kitab dianggap tidak lebih mampu mencitrakan identitas yang di inginkan oleh manusia dibanding TV dan pada akhirnya posisi kitab pun dikalahkan. Mungkin jalan yang lebih baik kita lakukan adalah dengan mengidentifikasi kandungan Al-Qur’an tersebut sebagai citraan diri. Hal ini bisa jauh lebih berarti dalam menuntun pemikiran masyarakat dominan daripada televisi yang mengidentifikasi diri-diri yang ideal dan akhirnya membohongi diri sendiri. Jadi tergantung anda, anehnya, apakah anda ingin dihasrati oleh Televisi? Atau dihasrati oleh Kitab agama (Al-Qur’an)?
Tapi, dalam permasalahan agama pun hal ini bisa ditemukan. Manusia diciptakan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai khalifah, mengabdi, dan beribadah kepada-Nya. Tidak sedikit yang salah mengidentifikasi akan pelaksanaannya bahwa manusia sekarang beribadah hanya berusaha untuk memenuhi kekurangannya; dalam hal ini kekurangan pahala, lebih jauh lagi kekurangan akan surga. Pahala dan surga ini bisa di artikan sebagai real yang tadi saya singgung di awal tadi. Pertanyaannya, apakah ini (hasrat) inti dari ibadah yang selama ini kita lakukan?? Apa mungkin selama ini salah dan mengharapkan ridho Allah SWT yang sebenarnya??? Jadi, saatnya mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya kita inginkan dalam kehidupan ini.
Yang harus disadari manusia bahwa identitas yang sesungguhnya itu adalah semu. Kita tidak lagi menyadari diri ‘aku’ atau ‘self’ karena kita hanya menggambil sebahagian atau keseluruhan hasrat orang lain yang kita citrakan sebagai diri. Pada hakikatnya, ketidaksadaranlah yang menjadi inti dari keberadaan kita bukan keadaan sadar bahwa ‘ini lah saya’ tetapi saya adalah apa yang saya tutup-tutupi, saya represi dan tidak ingin saya keluarkan dan diketahui orang lain dalam realita.
Jadi, apakah ANDA termasuk orang yang mengidentifikasi diri dengan diri-diri ideal dan hasrat orang lain sebagai hasrat anda sendiri????
Saya berani bilang.. YA....
I’m just an ordinary man but different in view........
Y. R.


hahahah :D akhirnya masuk blog tanpa diedit ya :D
BalasHapusgak sabaran gw..daripada gak update2 juga...haha
BalasHapuswah sangat miris :(
BalasHapusuntung saya ngga sempat nonton tv lagi waktu kuliah
sejak kuliah ding maksudnya hehe
BalasHapusya televisi memang menjual sesuatu yg mewah tuh. padahal banyak orang yg susah hidupnya, jadi terlena deh nonton yg serba wah.
BalasHapusaku termasuk jarang nonton tivi nih.
BalasHapusNinda@ syukurlah.... jangan ditonton ^^.. sekarang udah ada sedikit pencerahan kan..hehe
BalasHapusSang Cerpenis bercerita@ setujuu... mirisnya sbhagian org2 mskin tidak brpendidikan jadi menelan mentah2 tontonan tersebut... lebih lanjut lagi..mereka menjadi tidak 'fight' dgn keadaannya karena memuja2 citraan di TV aja...
mbak reni@ baik nonton brita aja mbak..hehe^^..
tapi berita sekarang politik semuaa...