Tampilkan postingan dengan label PERSPEKTIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERSPEKTIF. Tampilkan semua postingan
Jika anda seorang mahasiswa sastra atau memiliki minat dan ingin tahu dalam kiritik karya sastra dan budaya, tidak ada salahnnya membaca tulisan ini sebelum Anda mengenal dan memahami lebih lanjut tentang teori sastra dan budaya, sehingga memiliki gambaran umum tentang teori sastra. Terdapat beberapa gagasan teori yang sering berulang dan dianggap sebagai suatu bentuk landasan dalam suatu kritik sastra atau budaya. Dalam tulisan ini, saya menjelaskan beberapa landasan atau gagasan dasar yang sering berulang ketika mengkritik suatu karya sastra dengan menggunakan teori tertentu.
1. Pendapat umum tentang ‘kebenaran’ dalam eksistensi manusia merupakan hal yang sesungguhnya tidak stabil, tidak tetap, dan hanya bersifat sementara bukan mutlak. Pendapat awal ini dimana ‘kebenaran’ merupakan sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dalam artian dideterminasi oleh kekuatan sosial, politik, dan cara pandang atau berpikir yang berubah-ubah dan berbeda.
2. Kepercayaan ahli teori bahwa semua pemikiran selalu dipengaruhi dan dilegitimasi oleh ideologi yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu, tidak ada telaah atau pemikiran yang benar-benar bebas dan tidak memihak. Hal ini menciptakan situasi dimana tidak ada yang bisa menelaah secara objektif, semanya akan berat sebelah. Pandangan ini membuat kita cenderung mendiskreditkan tujuan kita dengan menyertakan relativisme yang melumpuhkan argumen apapun.
3. Pandangan bahwa keseluruhan realitas dikonstruksi melalui bahasa sehingga segala sesuatu merupakan bentukan tekstual. Bahasa bukan lah alat untuk merekam realitas, tetapi lebih jauh membentuk dan menciptakannya. Hal ini menciptakan pandangan bahwa seluruh alam semesta bersifat tekstual.
4. Dari pandangan diatas, maka tidak ada makna yang tetap dalam suatu karya sastra. Makna selalu bergeser, tergelincir, dan ambigu. Merupakan suatu ketidakmungkinan untuk menetapkan suatu makna yang pasti, sebaliknya merupakan sifat bahasa untuk menciptakan jejaring makna tak terhingga. Semua teks akan kontradiktif dengan dirinya sendiri.
5. Ahli teori percaya bahwa tidak adanya gagasan yang ‘total’. Baik itu buku-buku besar maupun karya sastra selalu tercipta dalam situasi sosiopolitik tertentu yang tidak boleh kita elakkan atau abaikan. Contoh lain adalah pandangan tentang konsep ‘sifat manusia’ sebagai norma umum yang melampaui ide adanya keterutamaan ras, gender, dan kelas tertentu. Pada praktiknya, ini merupakan suatu Eurosentris (norma orang Eropa kulit putih) yang tidak boleh dipercaya.
Dari kelima kerangka gagasan dasar teori diatas, dapat kita pahami bahwa adanya pandangan atau gagasan dalam kritik sastra yang sering berulang yaitu tentang kebenaran yang bersifat sementara, pemikiran atau telaah tidak bisa terlepas dari pengaruh ideologi, bahasa membentuk dan mengkonstruksi realitas, tidak adanya makna yang pasti dan tetap, dan tidak adanya gagasan tentang penotalan karena dipengaruhi oleh kondisi sociopolitik. Jika dalam mengkritik karya sastra menemukan kesulitan pemahaman, anda bisa kembali ke daftar ini untuk mengingatkan kembali kerangka pemikiran dasar yang diwujudkan teori.
*tulisan ini adalah ulasan dan simpulan dari bab 1 - buku Beginning Theory oleh Peter Barry guna me-refresh pengetahuan tentang teori kritik sastra.
Barry, peter. Beginning Theory; Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya. Yogyakarta: jalasutra, 2010.
Pada suatu ketika, seorang anak lelaki berumur 17 tahun bertanya pada seorang guru, sang Maha GuPsi, karena dia sering ditertawakan teman-temannya dari kecil hingga tamat sekolah menengah atas, yaitu sebagai Anak Mami. Lalu lelaki itu bertayalah kepada Maha GuPsi;
Lelaki : maha Gupsi, kenapa ya saya selalu di tertawakan temen-temen saya sebagai anak mami??
Maha GuPsi : kamu itu Oedipus Komplek.....
Lelaki : apa itu guru?
Maha GuPsi : itu penyakit psikologis dimana anak ‘menyukai’ orang tuanya sendiri...
Lelaki : hah?? Saya bukan seperti itu kok guru. Guru pasti salah.
Maha GuPsi : kamu pasti seperti itu.
Lelaki : apa buktinya, guru??
Maha GuPsi : apa tujuan hidup kamu??
Lelaki : Hmm...apa yaa????? Membahagiakan orang tua...
Maha GuPsi : Tu kan. Benar.
Lelaki : hah?????????
Maha Gupsi : siapa orang yang paling menjengkelkan dirumahmu??
Lelaki : ?????? hmm... ayah..
Maha GuPsi : nah...bener lagi...
Lelaki : loh?? Kok gitu guru??
Maha GuPsi : anak Oedipus tak suka dengan ayahnya.
Maha GuPsi :Kamu punya pacar bukan??
Lelaki : Punya.. knapa guru??
Maha GuPsi : seperti apa pacarmu (kepribadiannya)??
Lelaki : Hmmm... baik, pinter masak, lembut, suka manjain saya... yaa...knyak ibu saya gitu guru...
?????????
Maha GuPsi : dugaan saya TIDAK SALAH kan...
Note: dari sudut pandang psikoanalisis...^ ^
He 'Loves' MOM
Admin
23.49
Admin
23.49

